Sunday, March 25, 2012

"BAYINYA SIAPA?"

Setelah 3 minggu berada di Surabaya, baru pagi ini aku membawa Louis jalan-jalan pagi mencari udara segar. Louis aku gendong menggunakan gendongan samping. Aku, masih dengan baju tidur batik, berjalan ke kompleks sebelah yang memiliki taman untuk umum. Sekitar 15 menit aku berjalan sementara Louis sudah pulas lagi dalam gendongan. Pada saat berjalan pulang, kami berpapasan dengan dua orang ibu yang sepertinya sedang berangkat bekerja. Salah satu ibu bertanya kepadaku,
"Bayinya siapa?"
Sedikit terkejut atas pertanyaan tersebut aku menjawab, "Bayi saya."
"Ooo, lucu ya, " kata ibu tersebut sambil berlalu pergi.

Pertanyaan ibu tersebut membuatku penasaran. Apakah penampilanku yang masih berbaju tidur batik itu mengigatkannya pada penampilan mbak-mbak babysitter atau memang tidak lazim seorang ibu menggendong bayinya sendiri sambil berjalan kaki di kompleks itu? Jika alasan pertama yang membuat si ibu bertanya aku terima nasib saja dianggap mbak babysitter (salah sendiri jalan keluar masih dengan baju tidur). Tetapi bila alasan kedua penyebabnya aku menjadi miris. Kompleks rumah ayahku ini memang termasuk milik golongan ekonomi menengah atas di mana sebuah keluarga mampu mempekerjakan seorang pengasuh bagi bayi atau balita mereka. Tetapi aku berpendapat bahwa bayi sangat merindukan dan membutuhkan pelukan ibunya dan salah satu cara yaitu dengan menggendong. Aku sendiri tidak keberatan sering menggendong Louis saat ini karena ini memang saatnya. Suatu hari nanti akan datang masanya Louis sudah tidak membutuhkan gendonganku lagi. Aku mau Louis semakin mengenal aroma yang menentramkan yaitu aroma tubuh ibunya.

drmomma.org
Sebuah artikel menarik berjudul Why African Babies Don't Cry mengatakan :
When I went home I observed. I looked out for mothers and babies and they were everywhere (though not very young African ones - those under six weeks were mainly at home). The first thing I noticed is that despite their ubiquitousness it is actually quite difficult to actually "see" a Kenyan baby. They are usually incredibly well wrapped up before being carried or strapped onto their mother (sometimes father).
Even older babies already strapped onto a back are then further protected from the elements by a large blanket. You would be lucky to catch a limb, never mind an eye or nose. It is almost a womb-like replication in the wrapping. The babies are literally cocooned from the stresses of the outside world into which they are entering.
Bayi-bayi Africa digendong oleh ibu atau ayahnya ketika mereka keluar rumah - bukan ditaruh dalam stroller lalu didorong oleh babysitter. Inilah yang membuat bayi-bayi Afrika tidak banyak menangis.

Menggendong bayi memang bisa melelahkan, aku tidak menyangkalnya. Tetapi jika dengan itu bayiku menjadi lebih tenang dan merasa aman, aku akan melakukannya dengan gembira. Karena masa-masa inilah secure feeling-nya terbentuk.

Para ibu dan ayah, bila Anda  menginginkan bayi atau balita Anda tumbuh dengan rasa aman dan keyakinan kuat bahwa ibu dan ayah mencintai mereka maka jangan segan untuk sering memeluk dan menggendong mereka. (Jangan kuatir tentang "bayi bau tangan", itu hanya mitos. Karena ada masanya anak Anda tidak mau lagi Anda gendong).

No comments: