Monday, April 11, 2011

MENTALITAS KEKURANGAN


Semakin hari semakin tak terhitung tayangan iklan yang mendominasi televisi-televisi swasta di Indonesia. Produk yang ditawarkan memang bermacam-macam tetapi hanya ada satu pesan yang disampaikan yaitu Anda kekurangan.
Kurang apa diri saya?
Kurang putih (produk pemutih kulit), kurang enak bau badannya (produk deodorant), kurang indah rambutnya (produk sampo dan pelembut rambut), kurang cerdas anak-anaknya (produk susu), kurang mulus kulit wajahnya (produk sabun wajah), kurang awet muda (produk krem anti penuaan), kurang bagus mobilnya (produk otomotif), kurang laju sepeda motornya (produk sepeda motor), kurang murah tarif pulsa HP nya (produk dari provider telekomunikasi), kurang terjamin masa depannya (produk asuransi), dan kurang-kurang lainnya.
Biasanya, saya hanya bisa menyediakan waktu 1 jam saja untuk menonton suatu acara, di mana kurang lebih 30 menit diisi dengan iklan. Berarti 30 menit dalam sehari saya diindoktrinasi dengan mentalitas kekurangan itu. Seminggu = 4.5 jam indoktrinasi, sebulan =18 jam indoktrinasi, setahun = 216 jam indoktrinasi.  Sementara saya sudah menonton televisi selama 20 tahun. Mereka mengindoktrinasi saya tentang kekurangan tanpa saya diberi kesempatan untuk membantah. Saya hanya bisa menelan saja.  Lalu perlahan-lahan saya mulai mempercayai doktrin tersebut. Saya memang kekurangan. Saya harus berusaha menutupi kekurangan-kekurangan itu dengan produk-produk yang mereka tawarkan. Sepertinya setelah itu saya akan bahagia dan tidak merasa kekurangan lagi. Itu janji mereka, kan?
Saya terbelenggu, terpenjara dalam mentalitas kekurangan dan terus-menerus merasa menderita sampai suatu saat  pintu penjara hati saya terbuka dan cahaya terang pencerahan  masuk menyinari diri saya dan membuat saya menyadari bahwa sebenarnya saya hanya kekurangan 1 hal saja, tidak lebih,  yaitu kurang mampu menikmati apa yang ada.
Kemudian saya membayangkan, seandainya televisi di Indonesia didominasi dengan tayangan iklan yang berisi dorongan untuk menikmati pantai-laut-gunung-hutan-danau-lembah- padang rumput-air terjun-sungai-flora-fauna yang ada di Indonesia, makanan khas Indonesia, tarian asli Indonesia, lagu-lagu rakyat Indonesia, produk-produk kerajinan lokal, warna kulit asli penduduk daerah tropis, sifat ramah dan kekeluargaan yang dulu dikenal oleh para penjelajah samudera dari Eropa....... ah, apa jadinya negara ini 20 tahun mendatang, ya? Masih adakah mentalitas kekurangan yang sekarang begitu mendominasi rakyat negeri ini?


Jika Anda menikmati sesuatu dengan sungguh-sungguh, Anda hanya membutuhkan sedikit. – Anthony de Mello

Foto karya : Aan P. Nirwana

No comments: