Thursday, October 21, 2010

YANG TEWAS ITU YANG JAHAT?


Sejak tanggal  5 Oktober 2010 – hari kedua setelah banjir bandang di Wasior – aku sudah menunggu pernyataan beliau yang satu ini di surat kabar. Tetapi sampai hari ini belum aku jumpai satu kalimat pun dari orang nomor satu di Kabupaten Wondama itu tentang bencana banjir bandang tersebut. Aku sungguh penasaran dan bertanya-tanya : Apakah beliau selamat? Mungkinkah beliau salah satu dari korban tewas yang belum ditemukan? Tetapi jika memang beliau termasuk yang dinyatakan hilang atau meninggal, pasti beritanya sudah tersebar. Tidak ada berita, tidak ada pernyataan –menurutku – beliau ada bae-bae saja.

Pagi ini ketika seorang wartawan radio bertandang ke toko buku rasa penasaranku mencuat lagi. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertanya tentang beliau yang satu itu. Sang wartawan radio  mengatakan bahwa  Wondama-1 dalam keadaan sehat, selamat, tidak kurang suatu apapun dan sempat bertemu di kantor gubernur. 

“Lalu pernyataan apa yang beliau katakan tentang musibah di Wasior?” tanyaku

 “Di depan gubernur, beliau berkata dengan sedikit bangga bahwa orang-orang yang tewas itu adalah orang-orang yang berseberangan dengannya dalam pilkada lalu. Bahwa air bah itu seolah-olah memiliki mata dan hanya mengejar mereka yang tidak mencontreng nama beliau di pilkada lalu.” Begitulah cerita sang wartawan radio.

Sejuta kata makian bagi beliau sudah ada di kepalaku.  Untungnya lidahku tidak terbiasa mengeluarkannya menjadi kata-kata.  Aku hanya merasakan jantungku berdebar lebih keras. MIris, sedih, kecewa, marah.  Dan yang lebih mengguncangku adalah beliau menang lagi untuk periode yang kedua. Bagi beliau bencana itu tidak berarti apa-apa selain tanda hukuman bagi orang-orang yang tidak mendukungnya.

Mungkin aku memang berhak untuk marah, sedih, kecewa karena pernyataan beliau. Tetapi  bukankah pikiran seperti itu yang sering muncul di benakku ketika melihat sesuatu yang buruk menimpa orang lain?
Ada orang yang kecopetan atau dirampok atau kehilangan materi, aku bilang mereka selama ini serakah, tidak mau berbagi. Benakah?

Jika seseorang mengalami kecelakaan atau ditimpa penyakit berat, aku menduga bahwa mereka kurang beribadah. Pastikah?

Lalu apakah yang tewas dalam banjir bandang di Wasior itu hidupnya lebih jahat daripada yang selamat? Atau  yang selamat dari banjir itu hidupnya lebih suci daripada yang meninggal?

Apakah kebaikan atau keburukan yang datang dalam hidup manusia adalah sekedar bayaran dari apa yang sudah mereka lakukan selama ini?

Aku tidak tahu jawaban pastinya, tetapi hanya ini yang aku tahu : jika esok ketika ayam berkokok dan matahari terbit aku masih bisa membuka mata serta bernapas berarti masih ada tugas yang harus aku kerjakan dan kesempatan bagiku untuk memperbaiki diri.

No comments: