Wednesday, September 22, 2010

SUATU SORE DI RUANG TUNGGU

Ketika aku memasuki ruang tunggu tempat praktek drg. Indah sore itu hanya
kulihat satu orang ada di sana. Seorang laki-laki sedang berselonjor di sofa
panjang dan menghadap sebuah televisi yang tengah menyiarkan sebuah film dari
HBO.


"Selamat sore!" sapaku

Laki-laki itu bergeming.

"Selamat sore!" sapaku sekali lagi.

Dia tetap diam tidak bergerak. Aku segera menyadari bahwa laki-laki itu bukan
sedang menonton televisi tapi sedang ditonton televisi alias tertidur.

Lalu aku melihat ke sekeliling ruang tunggu yang digabung dengan apotik itu
untuk mencari-cari manusia lain. Tidak ada seorang pun. Lalu aku melihat ada
sebuah pengumuman ditempel di dinding dekat pintu ruang praktek drg. Indah,
tepat di samping sofa panjang tersebut. Rupanya gerakanku mendekati pintu itu
membangunkan laki-laki tersebut. Dia terbangun dalam terkejut. Matanya masih
merah dan terburu-buru bangkit dari sofa.

"Selamat sore," kataku.

Aku mendengar laki-laki itu bergumam,"……….. dokter, ya?"

"Iya," jawabku karena aku pikir dia bertanya apakah aku akan bertemu drg. Indah.

Laki-laki itu segera menuju lemari dan mulai mencari-cari sesuatu. Rupanya dia
mencari kunci. Setelah menemukan kunci dia segera membuka ruang prakter drg.
Indah dan bergumam lagi,

"Perawatnya belum datang."

"Oh, iya," jawabku

"Sendiri?" dia bertanya padaku

"Iya, saya sendiri," sahutku dengan maksud bahwa aku sendiri yang akan berobat.

Kemudian aku menduduki sofa panjang tadi dan mengambil majalah yang terletak di
meja di sampingnya.

Tiba-tiba aku mendengar laki-laki itu berkata, "Saya kira Ibu dokter pengganti
drg. Indah. Karena drg. Indah berangkat ke Jakarta pagi ini."

"Hah? Bukan, saya mau kontrol," jawabku

Aku jadi berpikir hanya ada dua kemungkinan mengapa orang itu sampai mengira aku
dokter pengganti. Yang pertama karena penampilanku memang seperti seorang dokter
dan yang kedua – yang lebih masuk akal – orang itu nyawanya belum ngumpul semua
karena terbangun dengan kaget.

No comments: