Tuesday, November 3, 2009

Belajar Memilih

Sejujurnya aku iri kepada anak-anak yang lahir di abad XXI. Di era informasi ini para orang tua terutama ibu-ibu mendapatkan banyak masukan tentang bagaimana membesarkan anak. Seorang ibu muda di Jakarta, Ibu Imelda, adalah salah satu contohnya. Sejak buah hatinya, Arvind, berusia sekitar satu tahun, Ibu Imelda sudah memperkenalkan kartu dan poster berisi gambar, warna, huruf, dan angka. Berdasarkan penelitian, seorang anak sudah bisa diajar mengenal huruf sejak batita, bahkan ketika masih bayi. Ibu Imelda memberitahuku bahwa semenjak rutin menggunakan kartu dan poster itu Arvind mendapatkan beberapa keterampilan seperti mengenal benda, warna, dan sudah bisa memilih. “Bisa Memilih”. Secara tidak langsung Ibu Imelda sudah melatih Arvind untuk belajar memilih. Sungguh beruntung Arvind lahir di tahun 2000-an dan memiliki seorang ibu yang mau terus meningkatkan pengetahuan tentang membesarkan anak.


Menurutku keterampilan memilih adalah satu-satunya harta pribadi manusia yang tidak pernah bisa dicuri orang lain. Aku membayangkan ketika Sang Pencipta menciptakan alam semesta ini, Dia sudah menentukan aturan bagi perputaran tiap-tiap planet dan bintang, menanamkan insting pada hewan kapan makan, kapan kawin, kapan melindungi anak, kapan mengusir anak pergi dari sarang, kapan lari dari pemangsanya tetapi untuk manusia, Sang Pencipta menambahkan satu hal yaitu kehendak bebas. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang bisa memilih untuk mencintai atau membenci Sang Pencipta, untuk menghargai atau menyia-nyiakan alam semesta, untuk menjalani hidup dengan bersyukur atau dengan berkeluh kesah. Seandainya aku menjadi Sang Pencipta, tentu aku tidak berani mengambil resiko ini. Syukurlah Dia bukan seperti aku.


Namun sangat disayangkan, banyak manusia tidak bisa menghargai kehendak bebas orang lain, terutama anak-anaknya. Mungkin karena takut si anak membuat pilihan yang salah atau tidak mau repot menunggu anak menentukan pilihan. Orang tua baru memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih ketika si anak memberontak. Pada umumnya terjadi di usia remaja. Aku teringat pengalamanku sendiri. Orang tuaku, terutama ibuku, sering memilihkan sesuatu untukku. Alasannya karena tidak mau repot menunggu aku berpikir memilih yang mana. Ketika akan membelikanku pakaian ibu langsung mencobakannya padaku dan melihat apakah cocok atau tidak. Biasanya pakaian yang dibelikan untukku berwarna merah, merah muda, kuning, orange. Pernah suatu kali aku meminta pakaian berwarna biru, hijau, hitam, dan ibuku menolaknya dengan alasan warna-warna itu tidak cocok untukku. Sebagai seorang anak kecil aku terpaksa menurut daripada tidak mendapat baju baru. Ketika aku harus memilih jurusan di SMA, orang tuaku menyerahkan sepenuhnya padaku karena hal ini sudah di luar jangkauan mereka. Begitu pula dengan jurusan di universitas, pekerjaan, dan pasangan hidup, walaupun mereka tetap memberikan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pilihanku.


Aku menyadari bahwa memilih bukanlah proses yang mudah karena ada konsekuensi yang mengikuti di setiap pilihan yang aku ambil. Aku setuju jika seorang anak harus dilatih untuk memilih sejak kecil supaya mereka menyadari bahwa setiap pilihan mengandung konsekuensi. Memang ini menuntut kesabaran orang tua jika suatu saat anak membuat pilihan yang salah dan terpaksa memikul akibat yang kurang menyenangkan. Semakin dini anak dilatih memilih – ketika pilihannya masih sangat terbatas – semakin mudah orang tua membereskan keadaan jika terjadi kesalahan. Si anak pun niscaya akan semakin mahir memilih.


Sampai sekarang aku masih belajar memilih. Rupanya ini proses seumur hidup. Pilihan yang harus aku ambil saat ini bukan lagi didominasi untuk memilih benda-benda. Memang aku masih harus memilih benda-benda tetapi ini bukan lagi sesuatu yang sulit karena aku sudah cukup dewasa untuk memilih yang menurutku terbaik. Yang masih merupakan struggle adalah memilih untuk tetap mengasihi ketika aku dibenci, mengampuni ketika aku dihina, tetap berharap ketika aku cemas, tetap memiliki sukacita ketika kesedihan datang dan tetap bersyukur ketika hidup tidak seperti yang aku harapkan. Memilih apa yang mau aku masukkan dalam pikiran dan hatiku dan apa yang harus aku anggap sebagai sampah batin dan aku buang.


Memilih memang tidak pernah mudah tetapi aku bersyukur karena anugerah ini tidak pernah diambil dariku selama nafasku masih ada. Aku yakin aku selalu punya pilihan untuk mewarnai hidupku.

2 comments:

anita said...

abseeeeeeeeeen ...
kehendak bebas aka free will masih menjadi perdebatan ketika dihadapkan dengan predestinasi :)

aku pribadi percaya kepada kehendak bebas yg sebebas2nya tapi dalam batas tertentu ... lho ... hahaha

Dewi said...

Kehendak bebas adalah kebebasan untuk memilih sikap hati terhadap apa yang terjadi. Apa saja yang tidak bisa kita kendalikan berada di luar kehendak bebas kita. Begitu bu.... jadi gak perlulah diperdebatkan dengan predestinasi. Toh kita gak pernah tahu apa yang dipredestinasikan......