Friday, January 21, 2011

HANYA ADA SATU


Dulu aku mengira bahwa aku mempunyai  banyak permasalahan hidup.  Ada saja peristiwa dan orang yang membuatku menjadi stres.

Tahun 1998 aku tidak bisa tidur nyenyak karena sulitnya mendapatkan pekerjaan. Padahal waktu itu aku baru saja diwisuda dan sangat berharap bisa memulai karir yang layak sebagai seorang sarjana.

Setelah mendapatkan pekerjaan, muncul sumber stres baru, yaitu tugas yang harus aku selesaikan, target yang harus aku capai, dan promosi yang harus aku kejar. Aku merasa tertimbun oleh kewajiban.  Aku kembali stres.

Ketika membaca buku-buku kewirausahaan yang sedang populer saat itu, hatiku kembali gelisah karena ternyata menjadi karyawan bukanlah posisi yang aman secara finansial dan aku harus mencari jalan untuk menjadi seorang wirausaha.

Karena kebanyakan stres aku mulai merasa tubuhku tidak benar-benar bugar. Dari media aku membaca tentang penyakit-penyakit mematikan yang diderita orang-orang muda. Aku kuatir diriku pun terjangkit salah satu dari penyakit-penyakit itu. Stres kembali melandaku.

Seperti gadis-gadis pada umumnya, setelah lulus kuliah dan bekerja maka tibalah masanya  bagiku untuk menikah. Menemukan seorang pendamping hidup ternyata tidak mudah. Banyak kriteria yang harus dipenuhi dan tidak sedikit kekuatiran yang menyertai proses pencarian tersebut. Stres yang baru datang lagi menambah stres yang disebabkan hubungan-hubungan  gagal.

Akhirnya aku menikah juga. Setelah menikah stres tidak berhenti hadir karena kenyataan yang tidak sama persis dengan impian dan sebuah keluarga ideal (seperti di iklan-iklan) bukanlah sesuatu yang mudah untuk diraih. 

Belum termasuk stres ketika mengalami kemacetan di  jalan, stres saat mengantri di bank, stres ketika koneksi internet tidak lancar, stres saat mengetahui berat badan naik, stres ketika uban sudah mulai tumbuh, stres saat mendapati keriput halus di wajah, stres ketika ditinggal suami ke luar kota, stres saat masakanku gagal  dan masih banyak lagi.  

Awal tahun 2011 ini aku menemukan bahwa sebenarnya permasalahan hidupku  hanya satu saja, yaitu bagaimana aku memilih sikap hatiku dalam menanggapi peristiwa dan orang yang datang mengisi hari-hariku. Peristiwa dan orang itu tidak bisa aku pilih mana yang aku suka dan mana yang tidak aku suka. Mereka datang dan pergi tanpa bisa aku kendalikan. Tetapi aku bisa mengendalikan sikap hatiku.

Apakah aku lebih memfokuskan mataku pada peristiwa yang menakutkan atau pada Penciptaku yang serba maha?
Apakah aku lebih suka menangisi yang hilang atau mensyukuri yang masih ada padaku?
Apakah aku lebih memilih untuk memendam sakit hati atau memaafkan?
Apakah aku cenderung menuntut orang lain menjadi seperti yang aku mau atau menerima mereka apa adanya?
Apakah aku lebih mau bersikap pesimis atau berpengharapan?
Apakah aku melatih diriku untuk panik atau tenang?
Apakah aku lebih menuruti  desakan ego atau bisikan Ilahi dalam hati?
Apakah aku membiarkan hatiku tertinggal di masa lalu atau terlempar ke masa depan atau berada sepenuhnya di saat ini?

Ternyata aku hanya perlu bergulat dengan sikap hatiku sendiri dan bukan dengan peristiwa atau orang.

Sekarang pilihan ada di tanganku dan aku memilih : memfokuskan mataku pada Penciptaku, mensyukuri apa yang masih ada padaku, memaafkan, menerima orang lain apa adanya mereka, berpengharapan, tenang,  mendengarkan inspirasi Ilahi yang berbisik lembut di hatiku dan meletakkan hatiku sepenuhnya pada saat ini.  

Seperti permasalahan hidupku sebenarnya hanya satu, kebahagiaanku  pun ditentukan hanya satu hal  yaitu sikap hatiku.

No comments: