Monday, July 12, 2010

Mau Disogok di Toko Sendiri

Dua orang bapak-bapak memasuki toko buku sore itu. Seperti biasa aku mengucapkan salam, “Selamat sore.” Sambil tersenyum dengan sopan.

Bapak 1 : “Buku agama Kristen ada?

Aku : “Untuk kelas berapa?

Bapak 1 : “Kelas 1 sampai 6 SD.

Aku : “Ada. Di rak yang ini. Silakan Bapak pilih.

Aku segera kembali ke singgasanaku di meja kasir. Tak berapa lama kemudian Bapak tersebut membawa 3 buku agama Kristen untuk kelas 4, 5, dan 6 SD.

Bapak 1 : “Ibu, nanti tolong buat nota kosong sudah ada cap toko, ya.

Aku : “Maaf, Bapak, saya tidak berani. Kita hanya toko kecil.

Bapak 1 : “Tidak apa-apa, nanti kita isi sendiri harganya.

Aku : “Maaf, saya tidak berani.

Bapak 1 dan bapak 2 berbicara satu sama lain dalam bahasa daerah (Papua) mereka yang tidak aku mengerti. Tetapi intinya mereka sedang mencoba membujuk aku agar mau membantu mereka berkorupsi.

Bapak 2 : “Toko-toko lain mau bikin nota kosong. Kenapa di sini tidak mau?

Aku : “Maaf, saya tidak berani. Kita cuma toko kecil.

Bapak 2 : “Kalau begitu Ibu bikin saja nota, kita beli buku kelas 1 sampai 6 SD.

Aku : “Maaf, Bapak, saya tidak bisa karena itu akan mengganggu sistem administrasi toko kami.

Bapak 2 : “Toko kecil kan tidak diperiksa.

Aku : “Kami periksa sendiri.

Bapak 2 : “Tolonglah, Ibu. Nanti saya kasih Ibu sedikit.

Aku agak terkejut. Baru kali ini ada orang mencoba menyogokku di tokoku sendiri. Terus terang aku mau tertawa.

Aku : “Bapak, saya yang punya toko.

Setelah beberapa saat berdiskusi antar mereka sendiri akhirnya kedua bapak-bapak tersebut membayar ketiga buku itu dan aku mencetak faktur sesuai dengan harga yang mereka bayar.

Phiew…….. Uang yang mereka keluarkan tidak sampai seratus ribu. Tapi sudah berniat korupsi sampai, kemungkinan besar, tiga kali atau empat kali lipat.

Untungnya tidak tiap hari ada orang mau menyogokku untuk membuat nota kosong. Kalau banyak, aku cuma bisa bilang : “Cape deh……….” Tetapi aku lega karena berani untuk menolak permintaan mereka, yang kalau aku pikir-pikir, aku dan mereka tadi hanya bertanding siapa yang lebih kuat mentalnya.

Reaksi suamiku ketika aku ceritakan : “Enak aja, gak kerja keras tapi mau dapat uang banyak.